Mengenal Megathrust Mentawai – BNPB

0
145

VALORAnews — Akademisi Universitas Andalas, Badrul Mustafa Kamal, memberikan opini pembanding seputar ancaman gempa dahsyat 9 SR dari megathrust Mentawai yang dilansir sejumlah media hasil wawancara dengan pejabat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Berikut penjelasan pria bergelar doktor yang mengajar di Fakultas Teknik Unand yang dipublikasikannya di akun media sosial, facebook, Kamis (30/7/2015), sekitar pukul 10.00 WIB.

Mentawai megathrust menyimpan potensi gempa besar yang periode ulangnya sekitar 200-300 tahun sekali. Di megathrust ini terdapat dua segmen, yakni Siberut dan Sipora-Pagai. Segmen Sipora-Pagai sudah selesai periode ulangnya. Dulu terjadi gempa besar berskala 8,7 SR tahun 1833, yang diikuti dengan tsunami.

Lalu terjadilah beberapa kali gempa di segmen ini, yakni: tanggal 12 September 2007 menjelang maghrib dengan magnitudo 8,4 SR. Besoknya tanggal 13 September 2007 (hari pertama puasa ramadhan) terjadi yang berikutnya dengan magnitudo 7,9 SR.

Menjelang siang, sekitar pkl 11.00 kembali terjadi dengan kekuatan 7,2 SR. Setelah itu, sampai beberapa bulan berikutnya terjadi banyak sekali gempa susulan dengan kekuatan yang fluktuatif sampai sekitar 6 SR, sampai kemudian tenang.

Waktu itu para pakar berpikir bahwa kemungkinan potensi gempa di segmen ini sudah selesai. Tapi ada pula pendapat bahwa mungkin saja masih ada sisa energinya, mengingat bahwa di segmen ini sebelumnya terjadi dengan kekuatan 8,7 SR.

Untuk mencapai 8,7 itu kalau dilihat energi yang lepas sejak 12 September 2007 sampai Desember 2007 memang masih belum setara.

Ternyata benar, sisanya masih ada. Sisanya ini keluar pada tanggal 25 Oktober 2010, berupa gempa berkekuatan 7,2 SR yang berepisentrum di baratdaya Pagai Selatan. Gempa tersebut menimbulkan tsunami. Alhamdulillah tsunaminya tidak sampai ke pesisir pulau Sumatera, sehingga dari 7 (tujuh) kota dan kabupaten di Sumbar yang terancam dampak tsunami, hanya kabupaten Mentawai yang kena. Itu pun hanya di pulau Pagai selatan, Pagai Utara dan sedikit pulau Sipora.

Selesai terjadi gempa dan tsunami ini, semua pakar yakin bahwa periode ulang 1833 di segmen ini sudah selesai. Tinggal pengulangan berikutnya sekitar 200 tahun yang akan datang.

Nah, sekarang segmen Siberut. Pelepasan energi berupa gempa besar di segmen ini tercatat pada tahun 1797 dengan magnitudo sekitar 8,5-8,7 SR juga. Juga ada tsunami. Kemudian terjadilah gempa pada tanggal 10 April 2005 dengan kekuatan 6,7 SR.

Kekuatan semacam ini tentu jauh lebih kecil dari 8,7. Walaupun banyak sekali gempa berkekuatan di bawah 6 atau 5 SR sampai dua bulan sesudah itu, tapi jelas masih jauh dari yang seharusnya. Lalu terjadilah gempa pada tanggal 30 September 2009 di pinggiran segmen Siberut sebelah timur, dengan kekuatan 7,9 SR.

Walaupun cukup banyak kerugian jiwa dan harta benda serta rusaknya infrastruktur terutama di kota Padang dan Padang/Pariaman, tapi tetap energi yang keluar ditambah dengan yang tanggal 10 April 2005, belum setara.

Dr. Irwan Meilano dari ITB memperkirakan baru sepertiga yang keluar. Jadi masih ada kira-kira duapertiga lagi yang tinggal. Duapertiga energi yang tinggal inilah yang diyakini oleh tim BNPB berpotensi menimbulkan gempa besar. BNPB menyebut 9 SR.

Kalau saya menyebut paling tinggi 8,5 SR. Dan saya pernah berdiskusi dengan John McKlosky (pakar geofisika dari Irlandia), beliau pun sepakat dengan saya, bahwa dengan sejarah gempa yang terjadi di segmen ini 8,7 SR, maka energi yang tersisa maksimum menghasilkan gempa 8,5 SR.

Tidak masalah dengan prediksi BNPB yang 9 SR. Maksudnya mungkin agar semua kita, termasuk tim BNPB sendiri beserta BPBD Sumbar dan kota/kabupaten menyiapkan diri menghadapi gempa 9 SR. Kalau kita bersiap dengan 9 SR, lalu terjadi di bawah itu….aman bukan?

Jadi itu maksudnya. Begitu juga dengan tsunami. Untuk terjadi tsunami, ada syarat-syaratnya. Tidak harus sebuah gempa menghasilkan tsunami. Itu sangat tergantung kepada lokasi episentrum di segmen Siberut itu.

Tinggi tsunami itu pun, untuk pesisir barat Sumatera, dari sejarahnya dan dari simulasi/pemodelan yang dibuat oleh pakarnya, baik di ITB, UGM dan Caltech (California Institut of Technology), hanya 6 meter dpl (diatas permukaan laut). Waktu sampai tsunami untuk di Mentawai antara 10-12 menit setelah gempa besar dan untuk pesisir barat Sumatera antara 30-50 menit sesudah gempa besar.

Mudah-mudahan penjelasan saya ini dapat dipahami. Jangan kita takut terhadap gempa dan tsunami. Yang harus kita lakukan adalah WASPADA. Bukan takut. Pelajari mitigasi untuk menghadapi bencana gempa dan tsunami ini.

CATATAN TAMBAHAN:

Walaupun segmen Siberut ini menyimpan energi yang bisa menghasilkan gempa besar, namun tidak seorang pakar pun yang bisa memprediksi kapan energi itu keluar menjadi gempa, dimana episentrum dan hiposentrumnya. Ini dinyatakan oleh beberapa pakar yang datang ke Sumbar dan mempresentasikan hal ini di Gubernuran Sumbar tahun 2013 yang lalu. Ada Irwan Meilano, Danny Hilman, Kerry Sieh dan pakar Sumbar yang menyepakati hal tersebut. (*)

– See more at: http://www.valora.co.id/berita/1099/mengenal-megathrust-mentawai–bnpb.html#sthash.lA4JftwA.dpuf