Sekilas Tentang Pesisir Barat

Sekilas Tentang Pesisir Barat

  1. Gambaran Singkat

Pesisir Barat merupakan kabupaten termuda di wilayah Provinsi Lampung yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Lampung Barat. Dasar hukum pembentukan Kabupaten Pesisir Barat adalah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kabupaten Pesisir Barat di Provinsi Lampung (tercatat dalam Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor : 231, Tambahan Lembaga Negara Republik Indonesia Nomor : 5364). Pesisir Barat diresmikan sebagai kabupaten baru pada tanggal 22 April 2013. Nama Kabupaten Pesisir Barat berasal dari kata ‘pesisir’ dan ‘barat’, dikarenakan seluruh wilayah Pesisir Barat yang membentang dari utara sampai selatan berada pada pesisir pantai bagian barat Provinsi Lampung. Secara geografis, Kabupaten Pesisir Barat terletak di selatan Garis Khatulistiwa yaitu pada koordinat : 4°, 40′, 0″ – 6º, 0′, 0″ Lintang Selatan dan 103º, 30′, 0″ – 104º , 50′, 0″ Bujur Timur. Kabupaten Pesisir Barat memiliki luas + 2.809,71 km2 atau 8,39% dari luas wilayah Provinsi Lampung

Daerah Pesisir Barat memiliki potensi pariwisata terutama wisata pantai. Sebagai daerah tujuan wisata yang sudah terkenal sampai mancanegara, wilayah ini sering dikunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara, dengan tujuan utama untuk berselancar (surfing). Selain itu Pesisir Barat juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat kawasan ekonomi kreatif berbasis alam di Provinsi Lampung, dengan lini sektor di bidang pertanian, pariwisata perkebunan, kehutanan, kelautan, dan perikanan.

Sesuai dengan Undang Undang Nomor 22 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kabupaten Pesisir Barat di Provinsi Lampung, ditetapkan bahwa ibukota Kabupaten Pesisir Barat adalah Krui. Pemilihan ibukota Kabupaten Pesisir Barat merupakan solusi dalam hal pemerataan pembangunan, dikarenakan lokasinya cukup strategis berada di pusat kota. Secara administratif, wilayah Kabupaten Pesisir Barat terdiri dari 11 kecamatan dan 116 pekon (desa) dan 2 kelurahan. Luas masing-masing kecamatan secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Luas Wilayah Tiap Kecamatan di Kabupaten Pesisir Barat

No Kecamatan Luas Wilayah Jumlah Pekon/Kelurahan
km2 %
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pesisir Tengah 120,64 4,18 8
2. Pesisir Selatan 409,17 14,17 15
3. Lemong 454,99 15,76 13
4. Pesisir Utara 84,27 2,92 12
5. Karya Penggawa 211,13 7,31 12
6. Pulau Pisang 43,61 1,51 6
7. Way Krui 40,92 1,42 10
8. Krui Selatan 36,25 1,26 10
9. Ngambur 327,17 11,33 9
10. Bengkunat 215,03 7,45 9
11. Bengkunat Belimbing 943,70 32,69 14
Total 2886,88 100 118

 

Sumber : Pesisir Barat Dalam Angka 2013 (Luas sudah disesuaikan dengan editing peta Bakorsurtanal) dan UU No.22 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kabupaten Pesisir Barat di Provinsi Lampung)

  1. Kondisi Alam dan Potensi Bencana

Pantai barat Lampung termasuk kawasan yang mempunyai potensi tinggi terhadap bencana, baik gempa maupun tsunami. Pusat gempa tidak hanya berasal dari zona tumbukan lempeng yang berada di perairan barat Lampung, tetapi juga berasal dari daratan yaitu sepanjang Zona Patahan Sumatera (Semangka) yang memanjang dari Kota Liwa sampai Kota Agung yang menerus ke Selat Sunda. Kawasan pantai barat Lampung banyak terbentuk morfologi yang landai terutama di sepanjang pantai, sehingga beresiko tinggi terhadap bencana tsunami yang bersumber dari pusat-pusat gempa di perairan baratnya.

Punggung sebelah barat Lampung adalah bagian dari Bukit Barisan yang merupakan geantiklinal dengan sinklinal yang terdapat di sebelah timurnya. Punggung pegunungan dari Zaman Kapur (Cretaceous) ini mengalami deformasi pada Zaman Tersier yaitu terjadinya gejala-gejala patahan (gaya vertikal) sehingga terjadi fenomena geologi seperti patahan Semangka yang panjang menyusuri Way Semangka dan Teluk Semangka, gunung api yang berbentuk oval (Tanggamus, Rindingan, Rebang dan lain-lain di sekitarnya). Depresi tektonik seperti lembah-lembah Suoh, Gedong Surian dan Way Lima yang ditutupi oleh sedimen-sedimen vulkanis.

Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, potensi terjadi tanah longsor dan banjir bandang terdapat di seluruh wilayah Lampung dengan intensitas menengah dan tinggi. Potensi bencana yang mungkin terjadi baik di wilayah Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pesisir Barat, yaitu antara lain pergerakan tanah di Kecamatan Balik Bukit (menengah–tinggi), Batu Brak (menengah), Bengkunat (menengah), Bengkunat Belimbing (menengah), Belalau (menengah–tinggi), Gedung Surian (menengah), Karya Penggawa (menengah), Lemong (menengah), Ngambur (menengah), Sekincau (menengah), Sukau (menengah), Suoh (menengah), Way Tenong (menengah). Kemudian di Kecamatan Sumberjaya (menengah–tinggi), Belalau (menengah–tinggi), Pesisir Selatan (menengah–tinggi), Pesisir Tengah (menengah–tinggi), Pesisir Utara (menengah).

Kabupaten Pesisir Barat memiliki daerah pegunungan dan perbukitan yang diikuti lembah-lembah disekitarnya dengan memiliki kemiringan lahan lebih dan kawasan yang memiliki jenis tanah redzina dan litosol. Pada kawasan yang memiliki kriteria tersebut seharusnya penggunaan lahan sedapat mungkin berupa hutan lindung atau hutan rakyat. Namun, pada realitanya kawasan-kawasan lereng yang rentan terjadi longsor seringkali dipergunakan oleh masyarakat untuk mendirikan bangunan baik tempat tinggal maupun tempat usaha sehingga kondisi ini menyebabkan adanya ancaman bagi masyarakat jika terjadi bencana.

Bahaya bencana banjir selain merupakan bahaya bencana yang disebabkan oleh proses alamiah siklus air, juga banyak dipengaruhi oleh perbuatan manusia dalam mengolah alam dan sumber dayanya yang menyebabkan keseimbangan ekosistem dan alam menjadi tidak stabil. Salah satu penyebab terjadinya banjir yang terjadi di wilayah Kabupaten Pesisir Barat adalah adanya perilaku merusak (vandalism) yang dilakukan oleh manusia antara lain perusakan hutan, kawasan penyangga dan daerah aliran sungai mengakibatkan siklus air yang secara alami terjadi menjadi tidak seimbang antara run off dan serapan serta antara hulu dan hilir yang mengakibatkan bencana banjir dan juga tanah longsor.

Titik-titik rawan kejadian banjir di wilayah Kabupaten Pesisir Barat sangat erat kaitannya dengan keberadaan sungai – sungai utama yang ada yaitu Sungai Way Tenumbang, Sungai Way Basoh, dan sungai-sungai lainnya yang ada di wilayah Kabupaten Pesisir Barat dimana sungai-sungai tersebut sebagian besar merupakan hulu dari sungai-sungai yang ada di Provinsi Lampung. Saat ini penggunaan lahan di kawasan rawan banjir di Kabupaten Pesisir Barat adalah sebagai kawasan permukiman maupun lahan pertanian.

Di wilayah Kabupaten Pesisir Barat juga sering terjadi bencana kebakaran yang melanda bangunan milik warga. Kondisi ini tentu saja menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pesisir Barat melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pemadam Kebakaran mengingat sarana prasarana untuk penanggulangan bencana yang dimiliki masih kurang maksimal. Namun demikian, kondisi ini tidak menjadikan kendala bagi BPBD dalam mengoptimalkan pelaksanaan tugas dan fungsinya.

Dilihat dari potensi bencana yang ada, Kabupaten Pesisir Barat merupakan wilayah dengan potensi bencana yang cukup beragam antara lain gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, angin puting beliung, kekeringan dan lainnya. Seluruh wilayah Kabupaten Pesisir Barat masuk dalam peta rawan bencana nasional, disebabkan:

  1. Kondisi geografis wilayah di sebelah barat yang memanjang dari utara ke selatan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia sehingga memiliki resiko bencana tsunami;
  2. Berada di atas lempeng Patahan Semangko (cesar- semangko) di sebelah barat Pulau Sumatra yang beresiko terjadinya gempa bumi tektonik;
  3. Di lewati 13 Daerah Aliran Sungai (DAS) antara lain DAS : Malaya, Kemala/Laay, Tenumbang, Biha, Ngambur, Tembulih, Ngaras, Pintau, Bambang, Pemerihan, Menanga Kiri, Pemerihan, dan Belimbing sehingga beresiko tinggi terjadinya bencana banjir;
  4. Di wilayah Pesisir Barat sebelah utara sering terjadi bencana tanah longsor karena karena topografi tanah banyak terdapat tebing dan berada di lereng pegunungan Bukit Barisan Selatan. Selain itu angin puting beliung, kekeringan dan angin barat yang cukup besar yang beberapa kali terjadi.