BNPB Kekurangan Pesawat Untuk Hujan Buatan

JAKARTA-Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) kekurangan pesawat untuk water bombing guna mengurangi kebakaran hutan dan lahan.

“Kami masih mencari pesawat dan belum dapat untuk water bombing di Kalimantan. Untuk di Sumatera khususnya Riau dan Sumatera Selatan (Sumsel) sudah ada,” ujarnya saat dihubungi SH, Minggu (26/7).

Adapun pesawat-pesawat tersebut mampu menampung air hingga 4500liter untuk water bombing. Saat ini tersedia 2 helikoper di Riau dan 1 helikopter di Sumsel, sedangkan di kalimantan sedang dicarikan.
Sutopo mengatakan, saat ini pihaknya membuat hujan di Riau dan Sumsel.

Menurutnya, Riau sudah dilakukan hujan buatan sejak 22 Juni 2015 dan di Sumsel selama 2 minggu berturut hingga saat ini. Sutopo membenarkan, bahwa pihaknya melakukan hujan buatan bersama Badan Pengkajian dan Pemantauan Teknologi (BPPT) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). “Iya BNPB bersama BPPT dan KLHK untuk membuat hujan buatan ini,” kata dia.

Beberapa waktu lalu, Menteri KLHK Siti Nurbaya mengatakan sudah 30ton garam yang ditebar di awan untuk hujan buatan di Riau. Namun, hingga kini Sutopo mengatakan sudah 55ton garan yang disemai di awan untuk membuat hujan.

Dia mengatakan, tak hanya keterbatasan dalam ketersediaan pesawat untuk membuat hujan buatan. Melainkan cuaca yang mendukung seperti awan-awan potensial.

“Awan-awan potensial itu kelas Cumulus yang bentuknya seperti bunga kol dan padat,” ungkapnya.
Adapun hujan buatan, dan penyemaian garam di awan untuk hujan, dilakukan untuk mengurangi kebakaran hutan dan lahan.

Bertambah

Dari data yang diberikan BNPB, hotspot (spot panas) di Sumatera sudah bertambah. Sutopo memberi data dari satelit modis (Terra-Aqua), Minggu (26/7) terhitung ada 308 titik hotspot.

Hotspot itersebut tersebar di Riau (122 titik), Sumsel (59 titik), Jambi (19 titik), Sumut (25 titik), Bangka Belitung (9 titik), Kepri (1 titik) dan Lampung (5 titik).

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi danGeofisika (BMKG) Branti, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung Sugiono ketika dihubungi SH, Minggu siang menjelaskan, hotspot terus bertambah banyak dan tersebar di berbagai kabupaten di Provinsi Lampung. Jika sebelumnya hanya termonitor 1 titik, maka Minggu (26/7) jumlahnya mencapai 8 titik. Bahkan termonitor terdapat 3 titik panas terjadi di Taman Nasional Way Kambas (Kabupaten Lampung Timur).

“Terdapat 8 hotspot yang terpantau oleh Satelit Aqua. Posisinya tersebar di empat kabupaten,” ujar Sugiono.

Adapun lokasi hotsppotnya berada di:  Kecamatan Pesisir Selatan (Kabupaten Pesisir Barat) sebanyak 1 titik. Lalu di Taman Nasional Way Kambas (Kabupaten Lampung Timur) sebanyak 3 titik. Kecamatan Way Pengubuan (Kabupaten Lampung Tengah) sebanyak 1 titik; Kecamatan Menggala, Gedung Aji dan Gedunngmeneng (Tulangbawang) masing-masing kecamatan sebanyak 1 titik.

Sebelumnya hanya terlihat adanya titik panas (hot spot) di daerah Bekri, Kabupaten Lampung Tengah. Namun, lanjut Sugiono, adanya hot spot tersebut belum tentu terjadi kebakaran, tetapi di wilayah ini terdapat titik yang suhunya lebih tinggi dari suhu rata-rata lingkungannya.

“Sehingga warga perlu mewaspadai aktivitas yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” imbau Sugiono.

Asap

BNPB dalam keterangan resminya yang diterima SH, Minggu menyebutkan, wilayah Pekanbaru telah ditutupi asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).  Pada pagi hari, jarak pandang hanya 1 km. Sementara di Dumai, Palalawan dan Rengat, dilaporkan, jarak pandang 3 km.

Sutopo mengatakan, kepala daerah dan aparat yang ada untuk aktif turun ke lapangan guna melakukan pencegahan di daerahnya.  Menurutnya, pencegahan lebih  efektif daripada pemadaman.

Sumber : Sinar Harapan

Categories: Arsip Berita

Leave A Reply